Fisik manusia lemah,jauh lebih lemah dari makhluk-makhluk lain. Akan tetapi jiwa manusia lebih kuat..lebih berkembang. Oleh karena itu, merawat anak manusia pun menjadi pekerjaan lebih pelik jika disbanding merawat anak kuda, misalnya. Anak kuda cukup disediakan rumput, bahkan tidak disediakan pun ia akan mencari sendiri. Baru lahir sudah bias berdiri…anak manusia tidak bias. Lain anak kuda, lain anak manusia. Fisik akan kuda berkembang lebih pesat, fisik anak manusia lamban. Pikiran anak manusia dapat berkembang tanpa batas, pikiran anak kuda berhenti pada satu tahap.
“ bangunlah jiwanya..bangunlah badannya ..”. Yang diharapkan terbangun oleh para founding father negeri kita jelas jiwa manusia Indonesia. Bukan jiwa flora dan fauna Indonesia. Flora dan fauna harus kita lestarikan, pertahankan eksistensinya, ya! Ditingkatkan kualitasnya, ya ! Jiwa mereka tidak dapat diapa-apakan.
Sayang sekali, seruan para founding father itu entah terlupakan atau memang tidak pernah diperhatikan. Kita sibuk membangun badan melulu, entah itu badan manusia atau badan jalan raya. Banyak sekali gedung dan bangunan tinggi, tapi kesadaran kita masih sangat rendah. Bila manusia hidup hanya atas kesetian dan loyalitas, maka ia tidak lebih baik dari seekor anjing. Seekor anjing bias lebih setia dan loyal kepada majikannya. Di atas harapan, melampaui kesetian dan loyalitas, ada sesuatu yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain-yaitu Cinta. Manusia dapat mengekspresikan cinta, dan pembangunan jiwa manusia haruslah diterjemahkan sebegai pengembangan cinta di dalam dirinya.
Demi cinta, seorang raja dapat mengorbankan tahtanya. Cinta melampaui logika dan rasio. Dan cinta tidak perlu menimbang kelebihan dan kekurangan. Cinta tidak mengenal perhitungan, timbangan, dan ukuran.Bertanyalah pada si gila Qais, Majnoon, “apa pula yang kau lihat dalam diri Layla? Ia tidak secantik gadis-gadis lain.” Majnoon pun bingung, mau jawab apa…Didesak terus, akhirnya ia menjawab juga : “ Bila ingin melihat kecantikan Layla, pinjamlah mataku!”. Jawabannya tidak logis, tidak rasional, But who cares? Cinta tidak berurusan dengan logika dan rasio.
Cinta Majnoon pada layla masih berada pada tataran yang rendah. Sudah lebih tinggi dari nafsu barangkali, namun masih belum mencapai ketinggian dan kemuliaan yang dapat dicapainya. Cinta haruslah tanpa syarat dan tanpa batas. Cinta yang tak terbatas dan tak bersyarat itulah yang perlu dikembangkan dalam diri anak-anak kita. Namun bagaimana mengembangkan dalam diri meraka, bila kita sendiri belum pernah bersentuhan dengan cinta seperti itu ?
So, kita harus mulai dari diri sendiri. Kita harus mulai dengan mencintai diri. Mencintai diri tanpa syarat dan tanpa batas. Mencintai diri dengan segala ketulusan. Kemudian baru berbagi cinta, berbagi kasih dengan orang lain.
Para guru sering mengeluh, “ mau mengasihi bagaimana? Anak-anak jaman sekarang bukan main nakalnya,” Bila ada yang mengingatkan bahwa kenakalan adalah nama lain bagi masa kanak-kanak, dan bahwasannya anak-anak itu membutuhkan bimbingan, mereka tetap mengeluh,” Apakah itu kewajiban guru saja? Padahal anak-anak itu di sekolah hanya selama sekian jam setiap hari. Seterusnya mereka di rumah, bagaimana dengan peran orang tua?”
Ya, orang tua juga memiliki kewajiban untuk mengarahkan anak-anak mereka….Tapi, jangan lupa ketika sepasang suami isteri mengirimkan buah hatinya ke sekolah, maka secara implicit mereka telah menyadari keterbatasan mereka. Mereka telah menyerah, “ aku tidak dapat mendidik anakku, ia membutuhkn penanganan khusus. Ia membutuhkan sekolah, membutuhkan guru.”
Wahai guru, janganlah kau mengecewakan kepercayaan para orangtua terhadapmu. Bagaimana bila yang nakal itu anakmu sendiri? Siapa pula yang kau salahkan? Guru, tugasmu memang berat, tapi tak seorang pun dapat menggantikan peranmu.
Para orang tua pun harus sadar betapa beratnya tugas para guru yang mendidik anak mereka. Mereka harus bahu-membahu membantu para guru.
Ya, tugas guru memang berat. Ditambah lagi dengan perencanaan segala yang harus disiapkan, padahal jarang ada yang membacanya. Para pengawas pun belum tentu punya waktu untuk memeriksa perencanaan yang dibuat oleh setiap guru. Padahal, perencaan itu sudah mengikuti kurikulum yang baku.
Hingga 400-500 tahun yang lalu, system pendidikan di Timur tidak seperti sekarang. Saat itu, para guru memiliki kebebasan penuh untuk menentukan kurikulkumnya sendiri. Seorang guru akan mempehatikan kemampuan dan bakat setiap anak didiknya, kemudian diberi pendidikan yang sesuai kemampuan mereka. Kemajuan pikiran serta perkembangan jiwa setiap anak diikutinya dengan cermat. Anak-anak tidak dianggap secagai “class” secara kolektif. Setiap anak diterima dan dihormati individualitasnya.
0 komentar:
Poskan Komentar