Pada kalangan dewasa, hang outmenjadi media untuk bersosialisasi atau meeting dengan rekan kerja.Menjamurnya tempat-tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama rekan dankolega, seperti restoran, mal dan kafe mendorong kebiasaan ini menjadisebuah kebutuhan. Kini, budaya ini telah memasuki komunitas kecil karenapengaruh kehidupan sosial yang terbiasa berkumpul di tempat-tempattertentu layaknya orang dewasa.
Menurut konselor pendidikandari Universitas Paramadina, Fatchiah Kertamuda MSc, hang out diartikansebagai aktivitas yang dilakukan bersama teman sebaya maupun keluargauntuk rileksasi ataupun bersenang-senang. Pada dasarnya anak belummengerti benar arti dari hang out. Di dalam benak anak, hang out diartikansebatas pergi dan bersenang-senang bersama. Kegiatan belajar bersama ataubermain di rumah teman pun dikategorikan sebagai kegiatan hang out.
Kebutuhan kegiatan hang out pada anak tentu berbeda dengan orangdewasa. Anak belum memiliki konsep kebutuhan layaknya orang dewasa. Merekahanya mengikuti kebiasaan orang dewasa seperti mengobrol atau bersendagurau di kafe, mal dan restoran. Namun, sebenarnya pada anak usia tertentumemang membutuhkan kegiatan untuk bersosialisasi. Hang out bisa jadi mediauntuk memenuhi tugas perkembangan anak. "Mulai usia 7-8 tahun, anakbelajar bergaul dengan teman sebaya, lebih mandiri, membentuk sikapterhadap kelompoknya, serta mengembangkan nurani, moralitas, dansikap," kata Fatchiah.
Psikolog perkembangan anak dariUI, Luth Savitri Msi,juga mengungkapkan kebersamaan dengan teman-temanmenjadi hal penting bagi anak terutama di usia 9-10 tahun. Pada masa ini,anak ingin mencari tahu lingkungan di luar keluarga dan rumahnya, salahsatu caranya hang out bersama teman. ''Jadi jangan kaget jikaterkadang anak terkesan suka membangkang atau memberontak karena pengaruhteman lebih besar dibandingkan orangtua,'' ujarnya.
Savitri menambahkan, Anak bisa mulai hang out tergantungdari lingkungan sosialnya, sejak kapan orangtua mengizinkan anakbersosialisasi bersama teman-temannya. Akan berbeda antara anak yangdibesarkan di lingkungan yang memiliki izin keluar rumah bersamateman-teman sejak SD, SMP, SMA, atau bahkan kuliah. Jika pada usia SD anaksudah diizinkan, maka budaya ini tentu lekat dan tidak asing dalam dirinyakelak, sehingga seringkali dijadikan kebutuhan oleh anak.
Melalui hang out, lanjut Savitri, anak juga dapat memastikan identitasdirinya, yaitu apakah tergolong populer atau tidak. Untuk masuk kekelompok tertentu tak jarang anak akan memenuhi persyaratannya yang seringdisebut dengan conformity. Alasan anak menyukai hang out, karena adanyaperasaan kebersamaan bersama teman-teman. Mereka bisa sharing apapun tanpatakut dihakimi. "Anak pun beranggapan dirinya sudah mampu menentukanpilihan, sehingga terkadang aturan dirasakan mengganggu. Sedangkan temantidak memberikan aturan," paparnya.
Ditambah lagi, anakbisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri dan orang lain serta merasabebas melakukan kegiatan apapun. Umumnya kegiatan hang out yang biasa anaklakukan antara lain, makan dan minum di restoran cepat saji sambilmengobrol atau tukar menukar barang koleksi, menonton di bioskop, belanja,dan main games. "Hang out dirasa anak sebagai salah satukebutuhan tahapan perkembangan, yaitu kebutuhan sosialisasi danautonominya," kata Savitri.
Pengaruh Teman VSKekhawatiran Orangtua
Kegiatan berkelompok ini juga sangatmempengaruhi perkembangan sosial anak antara lain keinginan anakmenyesuaikan diri dengan tuntutan sosial. Melalui hubungan dengan temansebaya, anak akan belajar berpikir secara mandiri, mampu mengambilkeputusan, serta menerima pandangan dan nilai-nilai selain dari lingkungankeluarga. Untuk diterima dalam lingkungannya, anak akan mempelajari polaperilaku yang diterima kelompoknya."Melalui kegiatan ini maka akanterjadi transfer nilai baik hal-hal positif hingga yang bersifat negatif," kata Fatchiah.
Tak jarang pula hal ini dapatmempengaruhi konsep diri anak. Apabila hang out tidak memberikan maknapada anak maka akan menyebabkan anak tidak nyaman dengan kelompoknya,misalnya minat atau kebiasaan dalam kelompoknya tidak sesuai denganminatnya. Anak pun merasa ditolak dan tidak merasa diterima dalamkelompoknya. Alhasil, anak kesulitan menyesuaikan diri. "Seringkalianak takut tidak diakui oleh teman-temannya sehingga akan berusahamengikuti peraturan dalam kelompoknya meskipun buruk," tambahFatchiah.
Fatchiah juga menyayangkan pilihan tempat hang outanak yang belum sesuai dengan tahapan perkembangannya seperti kafe, ataurestoran. Penyebabnya, tempat-tempat tersebut umumnya lebih besar dimasukikomunitas orang dewasa dibanding anak-anak. Sehingga anak-anak pun semakindekat dengan kebiasaan orang dewasa seperti merokok dan sebagainya. Sebabitu, orangtua harus mengamati pilihan tempat hang out anak. Sebaiknyapilih tempat yang memang memiliki unsur edukasi dan sesuai untukanak-anak, misalnya sanggar kesenian, kebun binatang, arena bermain, dansebagainya.
Pilihan tempat dan kegiatan hang out yang salahdapat menimbulkan kekhwatiran pada orangtua.
Sumber: PELANGI Traning Centre
www.pelangi-tc.com
__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com
0 komentar:
Poskan Komentar